Sabtu, 17 September 2016

Mesin waktu bawa aku pulang

Aline Clarisa. Aku adalah gadis cantik dengan hidung mancung dan bermata coklat sebagai penyempurna kecantikanku. Aku dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang harmonis dan berkecukupan. Aku satu satunya anak dari mereka. Karena keluarga juga, aku menjadi seorang yang berprestasi dari sekolah dasar. Sekarang akupun masih kelas 1 SMA. Intinya aku adalah gadis yang beruntung karna aku memiliki semua kesempurnaan itu.
Kehidupan itu tak berjalan selamanya. Kehancuran itu berawal dari pertengkaran hebat antara mama dan papa ku di setiap suatu malam.
“Aku seperti ini karna kau dan Aline. Dan sekarang kau tuduh aku berselingkuh? Dimana otakmu?”. Bentak papah
“Jadi siapa perempuan itu?? Apa itu yang namanya tidak berselingkuh?” Kata mamah.Ddduaaaar…Papa melakukannya tepat di depan mata kepalaku. Tangan itu yang biasanya melindungiku dan mama, kini malah menampar wajah mama. Aku hanya menangis.Terus menangis..  Aku berusaha berteriak, namun suara ini tertahan untuk keluar. Berbulan-bulan aku hidup berdampingan dengan kejadian hebat ini. Dan selama itu aku selalu berharap agar kejadian gila itu segera berakhir.
Kejadian itu berakhir dengan persidangan cerai. Aku benci ini. Bahkan sangat membencinya. Hilang sudah keluarga yang selalu aku banggakan selama ini.
“Lebih baik aku kerumah nenek saja”! Malam pun tiba aku tak bisa tertidur, aku sangat merindukan sosok kedua orangtuaku, tanpa terasa air mataku pun mulai membasahi pipiku, dan rasa sakit mulai mewarnai lamunanku. Aku duduk diteras rumah nenek. Termenung..Saat aku benar-benar berada dalam rasa rindu kepada papa dan mama yang amat sangat, yang juga diselimuti rasa sakit di kepalaku, sebuah suara terdengar yang juga membuyarkan lamunanku, aku cepat-cepat menghapus air mataku dan mengalihkan pandanganku ke arah suara tadi, terlihat sesosok cowok yang duduk disampingku “kamu belum tidur?” aku tak menjawab dan hanya menggelangkan kepala,”belum ngantuk?” aku menggelangkan kepala juga tanpa menjawab pertanyaannya lagi. “tidak bisa tidur ya?” tanyanya lagi, aku tersenyum dan kali ini aku hanya menjawabnya dengan singkat “Ya”. Dia terdiam, kemudian berdiri di dekat teras dimana aku termenung “aku tahu kamu merindukan keluargamu yang dulu, kanapa kamu tidak menghubungi salah satu dari mereka, biar aku yang berbicara pada mereka, mereka pasti khawatir” sebelum dia selesai bebicara aku memotong pembicaraanya “aku tak mempunyai keluarga!” dia terdiam merasa bersalah akan kata-katanya suasana hening sesaat “semua orang pasti mempunyai keluarga” dia pun mulai membuka pembicaraan “tapi aku tidak!!” jawabku singkat “aku yakin kamu mempunyai keluarga, meski mereka telah pisah mereka tetap orangtuamu” aku terdiam kata-katanya serasa menusuk hatiku “dari mana kamu tahu hal itu? Aku memang mempunyai keluarga tapi itu Dulu! sekarang keluarga ku hancur!aku sendiri disini.” suaraku semakin pelan dan semakin tak sanggup menahan air mataku. Dia terdiam tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya “orangtuaku bercerai, saat aku memutuskan untuk tinggal bersama Nenek, baru dua bulan Nenekku meninggalkan aku untuk selamanya. Dan kini aku pun hidup sendiri tanpa keluarga!” air mataku mulai menetes, isak tangisku mulai keluar tak ada suara saat itu hanya suara tangisku yang ada. Beberapa menit berlalu saat tangisanku mulai reda dia pun berkata “bagaimana pun keadaan mereka, mereka tetaplah orangtuamu, kamu tetap anggap mereka ada jangan pernah kamu katakan kalau kamu tidak mempunyai keluarga” hatiku mulai terbuka, aku tersenyum dan menganggukan kepala. “sekarang kamu tidur ini sudah malam, kamu harus banyak istirahat agar sakitmu cepat sembuh” aku mengangguk, “maukah kau berjanji untuk ku” tanyanya. “janji apa?” “berjanji untuk selalu tersenyum mensyukuri semua yang ada, dan jangan pernah menganggap orangtuamu tak ada!” kata-katanya benar-benar membuatku merasa tenang “aku berjanji” aku pun memberikan janjiku itu dengan diikuti senyumanku. Tak lama itu mataku pun mulai tertidur.
Hari-hariku berjalan dengan kesunyian..Pagi yang biasanya hangat dengan gurauan mama dan papa, kini terasa hambar. Setiap pagi selalu sarapan dan berangkat sekolah sendiri. Terkadang ketika aku melihat temanku  yang diantar oleh ayah ataupun ibunya, tak tertahan rasanya membendung air mata ini. Sungguh aku sangat merindukan kehidupan seperti mereka.
Bu Rini..Dia guru bahasa indonesiaku hari ini tidak hadir karna suaminya kecelakaan. Jadi, guru piket masuk ke kelasku untuk memberikan tugas.
“Ciptakan sebuah karangan yang menceritakan indahnya kehidupan keluarga kalian!” Ucap guru piket didepan kelas.
 Semua temanku langsung hanyut dalam kegiatannya. Tapi tidak denganku. Bagaimana mungkin aku akan menuliskan keluargaku yang telah hancur? Dan kali ini aku harus benar-benar mengarang.Menuliskan bahwa aku hidup di tengah keluarga yang harmonis dan saling menyayangi.

Hatiku berontak membaca kata-kata yang penuh kebohongan itu. Ku buang kertas itu, ku tulis kembali. dan kali ini aku tak ingin lagi mengarang. Dengan cepat ku tulis ‘BERBULAN-BULAN AKU HIDUP DI TENGAH KELUARGA YANG PENUH KEKACAUAN.DAN KINI AKU MERINDUKAN KELUARGAKU WALAU AKU SANGAT MEMBENCINYA!’ Hanya menulis itu aku langsung menyerahkan karangan singkat kepada guru piket.

Tanpa ku sadari, Lucky ternyata membaca tulisanku. Dengan prihatin, ia menanyaiku dengan berbagai pertanyaan. Dengan rasa malu bercampur takut, ku jawab pertanyaannya satu persatu. aku telah menceritakan semua kisah pahit keluarga ku kepada dia.
“Tenang Aline. Aku tak akan menceritakan kepada orang lain tentang masalahmu Aku hanya ingin membantumu. Pakailah ini untuk menenangkan dirimu!”. Kata ia, sambil memberikan sebuah bungkusan kecil ke tanganku.
Malam harinya, ku pandangi bungkusan kecil itu.. Dengan rasa penasaran, ku buka bungkusan itu perlahan lahan. Seketika muncul bau yang mencuat ke seluruh kamarku. Ku hirup bau itu dalam-dalam. Lagi lagi dan lagi. Benar yang Lucky katakan. Tanpa ku sadari?Aku merasakan ketenangan karenanya. Dan sejak saat itu, narkotika menjadi bagian terpenting dalam hidupku.
Dari sanalah kedekatanku dengan Lucky berawal. Dan dari kedekatan itu timbul sebuah perasaan cinta untuknya.
Malam hari ia menelfonku, besok ia ingin mengajakku ke sebuah tempat. Pagi ini, aku bangun gak seperti hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara alarm handphoneku yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat handphone mungilku masih tergeletak di samping bantal. Namun kupikir itu gak jadi masalah, soalnya aku masih bisa bangun tepat waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. “Sudah tampil cantik kah aku hari ini?” tanyaku sendiri dalam hati sambil berkaca. Tak lama kemudian.. “Aline, aline!” teriak diluar sana. “siapa yang memanggilku ya?” Hmm entahlah! Ku buka gerbang dan ku lihat, ya!dia ternyata lucky. Aku dan ia pergi bersama, ia ingin memberikan kejutan untukku. “kamu tutup mata sebentar ya line!” “untuk apa aku harus menutup mata?”jawab bingungku. “Lihatlah nanti!” aku berjalan, terus berjalan bersamanya! Sampai ditempat yang tidak aku tahu. Ku bertanya “bolehkah aku membuka mataku?” ia menjawab dengan lembutnya “Ya sekarang kamu boleh membuka matamu, aku hitung ya! 1…2…3” tanpa banyak bicara aku langsung membuka mataku! Duaarrr…. suasana disana masih sejuk pemandangannya begitu indah aku baru merasakan dan melihat alam seindah ini ucapku dalam hati. sebelum kemudian ia menoleh ke arahku. Bertanya,”sudah pernahkah kau kesini?”  “belum, tempat ini sangat indah..” Lucky menyatakan perasaan cinta kepadaku. Sungguh, kali pertamanya aku mendengar kalimat itu setelah kehancuran keluargaku. kata-kata itu tak pelak membuat jantungku bersalto. Berdetak secepat detakan detik dalam arlojiku. Aku tersenyum dan menggigit bibir diam-diam Namun kalimatnya yang terakhir membuat darah ini berhenti mengalir. Aku tau maksud pembicaraannya.
“Kita memang memiliki rasa yang sama.Tapi kita tak mungkin memiliki hubungan layaknya remaja lain. Aku yakin kau mengerti.” Bicaraku padanya. Aku tidak dapat memastikan diri. Perasaanku seolah terus mempermainkan kenyataan yang nampak didepanku saat ini.
Ah. Ini benar-benar gilaaa. Tapi tak ada salahnya aku terima.selama ini aku tak lagi diperhatikan kedua orangtuaku. Jadi tak salah kalau aku memulai kebahagiaanku yang baru dengan Lucky.
Hari-hari yang ku lalui semakin indah sejak bersamanya. Hampir setiap hari, disekolah maupun dirumah, lucky memberi ku kejutan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.  Mulai dari sms romantis,kado kecil sampai mengajakku ke tempat-tempat yang indah.namun itu dul. Sekarang Lucky juga sangat sibuk dengan band barunya, dan jarang memberiku kabar. Aku selalu hubungi lucky, aku hanya takut ia kenapa kenapa! Tapi dia tak merespon akan hal itu.. Pada awalnya aku mengerti dengan keadaannya, tapi lama kelamaan  aku sudah tidak bisa menahan kesabaranku ini.
Biasanya lucky datang kerumahku malam malam tapi malam itu Lucky tak datang ke rumahku lagi. Aku masih tau dia pasti sangat sibuk dengan band barunya itu. Aku bingung ntah apa yang ingin harusku lakukan, segera ku cari sabu-sabu yang kusimpan minggu lalu. Sial! Aku lupa taruh dimana. Ku alihkan pandangan ke meja biru yang dulu selalu membantuku mengerjakan berbagai tugas sekolah. Aku menangkap sesuatu disana. Sebotol lem. Ya! Aku ragu akan hal itu, “apa mungkin aku melakukannya?” Bergegas aku buka tutupnya dan kuhirup dalam-dalam.
Dengan lambat, ku ambil cutter  yang sudah berkarat di tas sekolahku. Ku toreskan cutter berkarat itu ke pergelangan kiriku. Darah merah dan segar mengalir sambil menebarkan aroma lem yang ku hirup tadi. Ku hirup kembali aroma yang ada di darahku. Berkali-kali aku melakukan hal yang sama. Sesuatu di luar kendaliku terjadi. Cutter itu memutuskan nadi pergelangan kiriku. Darah bersih dan segar mengalir cepat dengan sangat deras tanpa bisa ku hentikan. Aku bingung harus apa.
Sejak saat itu sudah tak ingat kejadian malam itu. Tiba-tiba aku terbangun dan berada dilorong yang sangat gelap. Aku terus berjalan mencari jalan keluar. Disana benar-benar gelap tak terlihat secercah cahaya sedikit pun. Setelah lama berjalan menyusuri lorong yang gelap itu, tiba-tiba aku melihat secercah cahaya yang sangat terang dan aku menghampiri cahaya tersebut. Ternyata cahaya tersebut mengantarkan ku pada pintu keluar lorong yang sangat gelap itu.
Saat sampai ke titik cahaya terang itu, aku menemukan sebuah jam tapi entah kenapa jam itu berbeda dengan jam dirumah ku. Jam itu memiliki tombol hijau dan tombol merah. Aku menekan tombol hijau dan tiba-tiba saja aku seperti terbang tertiup angin dengan jam itu ditangan ku. Aku sangat takut dan aku teriak memanggil tuhan, mama dan papa. Aku menutup mata karena sangat takut.
Tiba-tiba aku merasa aku berpijak di bumi dan aku perlahan-lahan membuka mata. Saat aku membuka mata aku melihat papa, mama, dan diri ku sendiri sedang makan bersama dengan harmonis. Ini lah keluarga ku dulu yang jauh dari kata pertengkaran. Aku berdoa dalam hati bahwa aku ingin kembali kemasa-masa itu, masa dimana keluaarga ku sangat harmonis. Tiba-tiba saja tanpa sadar aku meneteskan air mata, lalu jam yang kubawa itu bergetar. Saat aku melihat jam itu, muncul tulisan “back” dan “next” aku menekan kata “next”.
Saat aku menekan tombol next aku mendengar suara tangis mama dan papa yang mengatakan, “Aline bangun sayang, mama dan papa sangat sayang kamu nak! Ayoo bangun!". Saat aku mendengar suara itu tiba-tiba aku seperti tertiup angin yang sangat kencang seperti tadi. Lalu tiba-tiba aku terbangun dan membuka mata perlahan. Aku bingung, dimana aku? kenapa banyak sekali alat-alat aneh ditubuhku? Saat pertama kali aku terbangun mama dan papa ada disampingku dan langsung memanggil dokter. Dokter pun tiba dan mengatakan, "Syukur lah kamu tak apa, nadi mu hampir terputus dan darah terus mengalir. Tapi untungnya ada seorang lelaki yg baik hati menolong mu dengan mendonorkan darah untuk mu."  saat mendengar perkataan dokter aku langsung berfikir bahwa lelaki itu adalah Lucky, namun dugaan ku salah besar ternyata lelaki yg mendonorkan darahnya untuk ku adalah lelaki yg menghiburku dengan menyuruhku selalu tersenyum. Dia bernama Adit. Aku bertanya pada mama dan papa aku harus pulang ke rumah siapa jika sudah keluar dari rumah sakit, namun jawaban mereka sungguh membuatku bingung. Mama berkata, "Untuk apa kamu bingung ingin pulang kerumah siapa, mama dan papa kan satu rumah sama kamu Aline sayang." Hah?aku benar-benar terkejut, apa benar mereka tidak bercerai? belum sempat aku bertanya seperti itu tiba-tiba  papa langsung berkata, "cepat lah pulang kerumah karena rumah terasa sepi tanpa kamu line, ayoo cepat pulang supaya kita bisa bersenda gurau bersama dirumah." Aku makin bingung dan tiba-tiba saja jam yang pernah ku temui di tempat yang bercahaya itu muncul dihadapan ku namun sepertinya mama dan papa tidak bisa melihatnya. Jam itu bersuara dan mengatakan "Aline kau telah kembali bersama keluarga mu yang harmonis seperti yang kamu inginkan, perceraian  itu tidak terjadi dan kamu tidak pernah bertemu Lucky dan terjerat oleh obat terlarang. Lucky tidak akan pernah ingat bahwa kamu pernah jadi bagian hidupnya. Kehidupan barumu bersama keluarga mu telah bersama dirimu lagi. Aku adalah mesin waktu yang memutar balikan peristiwa yang tidak kau inginkan tidak akan terjadi, yang terjadi hanya peristiwa atau kejadian yang kamu harapkan."
Yaaa dengan kejadian  itu aku kembali hidup tentram bersama keluarga ku yang harmonis. Dan Adit menjadi bagian dalam hidupku yang juga memberikan berjuta warna dihidupku, menemani hari-hariku, dan selalu membuatku tersenyum. Awalnya ku pikir lelaki kaya Adit itu cuma ada difilm atau sebuah karangan aja tapi  ternyata dia benar-benar ada dihidup ku dan benar-benar berarti untukku. 

Rabu, 31 Agustus 2016

Kalkulator penolong dalam memecahkan hasil nominal


Bagi kalian yang sekolah atau kuliahnya jurusan akuntansi atau pemasaran pasti ga asing banget sama benda satu ini, karena ini alat yang membantu menghitung nominal demi nominal uang yang sering muncul di soal-soal yang berbau dengan keuangan. Untuk kehidupan sehari-hari juga penting loh alat ini.

Power bank bukan Power Ranger

Power bank bukan power ranger soalnya gak bisa berubah hehehe... Power bank untuk charger hp kalo lagi di out door

Minggu, 28 Agustus 2016

Notes before the exam

Sebelum UJI KOMPETENSI dan UJIAN NASIONAL segala persiapan dicatat biar gak lupa apa lagi catatan barang bawaan UJI KOMPETENSI dan tanggal kegiatan hari-hari menegangkan.

Luka yang perih


Luka begitu perih jadi pakai hansaplast. Mana plesternya? Belom beli hehehe

Be positive and smile

No matter how difficult and hard something is, I will always be positive and smile